Overview Listrik Indonesia Tahun 2015

Sebagai satu-satunya perusahaan penyedia layanan listrik di Indonesia, PLN memegang peranan penting sebagai ujung tombak kemudahan investasi di Indonesia. Mengapa? Karena secara umum, kemudahan berinvestasi didasari oleh dua hal berikut: kemudahan perijinan (administratif) dan juga kemudahan sarana-prasarana terkait jalan dan tersedianya energi listrik (teknis).

Berikut ini, investasi-indonesia.com memberikan overview listrik Indonesia, sebagai bahan pertimbangan investasi, baik di sektor-sektor industri, atau bahkan di sektor energi sendiri.

Penjualan Energi dan Rasio Elektrifikasi

Penjualan tenaga listrik tahun 2014 naik 5,9% menjadi 198.602 GWh dengan seluruh kelompok pelanggan mengalami kenaikan. Penjualan kepada kelompok industri tumbuh relatif lambat, sebesar 2,37%, sementara penjualan tenaga listrik terhadap kelompok pelanggan lainnya rata-rata tumbuh 7,7%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2013, yang sebesar 7,04%. Kenaikan penjualan listrik tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah pelanggan yang bertambah 3,49 juta atau naik 6,48% dari jumlah pelanggan tahun 2013, sehingga total telah mencapai 57,49 juta pelanggan. Penambahan jumlah pelanggan tersebut membuat rasio elektrifikasi secara nasional menjadi 84,3% (termasuk pelanggan non-PLN), naik dari posisi 80,36% di tahun 2013.

Pertumbuhan penjualan dan jumlah pelanggan membuat daya tersambung di tahun 2014 juga naik 7,45% sebesar 6.936 MVA, sehingga total daya tersambung menjadi 100.031 MVA.

penjualan energi listrik

Penjualan energi listrik, sumber: PLN

rasio elektrifikasi

Rasio elektrifikasi, sumber PLN

Produksi dan Pembelian Tenaga Listrik

Dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, PLN memproduksi listrik tidak hanya dari pembangkit listrik milik sendiri, melainkan juga dari pembangkit sewa dan pembelian tenaga listrik milik swasta.

Prioritas program kerja Perseroan dalam hal produksi tenaga listrik bertujuan antara lain: menjaga kecukupan pasokan listrik, mengoptimalkan bauran energi untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik (BPP), serta meningkatkan efisiensi operasi.

Produksi tenaga listrik tahun 2014 mencapai 228.555 GWh mengalami kenaikan sebesar 5,7% dari tahun 2013 sebesar 216.189 GWh. Produksi tenaga listrik tahun 2014 yang berasal dari pembangkit sendiri, pembangkit sewa dan pembelian listrik swasta mengalami kenaikan masing-masing sebesar 6,0%, 13,7% dan 2,0% dibandingkan tahun 2013.

bauran produksi listrik

Bauran produksi listrik, sumber: PLN

Dari tabel di atas tampak bahwa produksi tenaga listrik yang berasal dari pembangkit sendiri berbahan bakar minyak (BBM), mengalami penurunan sebesar 16,1% dari tahun 2013, sedangkan produksi tenaga listrik dari pembangkit non-BBM (batubara, gas alam, tenaga air, panas bumi, surya dan angin) mengalami peningkatan sebesar 7,9% dari tahun lalu.

Menurunnya prosentase produksi tenaga listrik yang berasal dari pembangkit BBM disebabkan oleh:

  1. Telah beroperasinya beberapa pembangkit FTP I – 10.000 MW yang berbahan bakar batubara.
  2. Adanya pasokan gas alam, sehingga pembangkit berbahan bakar gas alam dapat menghasilkan produksi tenaga listrik yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
  3. Meningkatnya penggunaan teknologi CNG sebagai pembangkit peaker.

Usaha yang dilakukan untuk menekan produksi tenaga listrik dari pembangkit berbahan bakar minyak, telah sejalan dengan prioritas program kerja Perseroan untuk menurunkan Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik melalui cara memaksimalkan produksi tenaga listrik dari pembangkit non BBM.

Adapun produksi listrik sendiri yang berasal dari pembangkit berbahan bakar non BBM mengalami peningkatan sebesar 10.449 GWh dari tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari produksi yang dihasilkan oleh pembangkit berbahan bakar batubara, gas alam, dan Surya, Bayu dan Biodiesel yang mengalami peningkatan masing-masing sebesar 12,3%, 7,6%, dan 306,7%.

Selain itu, PLN semakin mengintensifkan penggunaan bahan  bakar bio fuel dalam memproduksi tenaga listrik sebagai salah satu upaya mengurangi pemakaian bahan bakar minyak, terutama didaerah-daerah yang memiliki area perkebunan kelapa sawit skala besar, seperti di Kalimantan dan Sumatera. Hal ini telah sejalan dengan program Pemerintah untuk menggunakan energi baru terbarukan.

Produksi tenaga listrik dari pembangkit sewa dan pembelian dari pihak swasta yang meningkat sebesar 13,7% dan 2,0% dibanding tahun sebelumnya, dilakukan oleh Perseroan untuk menjaga kecukupan daya dan mempertahankan bebas padam untuk daerah di luar Jawa Bali, serta akibat mundurnya jadwal commissioning of date (COD) beberapa pembangkit non BBM.

Kapasitas Terpasang

Kapasitas terpasang pembangkit milik PLN sampai dengan akhir tahun 2014 adalah 39.257,5 MW, meningkat sebesar 14,8% dibanding tahun sebelumnya, sebesar 34.205,64 MW. Hal ini disebabkan telah beroperasinya beberapa pembangkit FTP 1 – 10.000 MW.

kapasitas pembangkit

Kapasitas pembangkit terpasang, sumber: PLN

Selain memenuhi kebutuhan daya listrik melalui pembangkit milik sendiri, PLN memenuhi daya listrik melalui pembelian dari pembangkit listrik milik swasta (IPP) dan pasokan dari pembangkit yang disewa. Total kapasitas terpasang pembangkit swasta di tahun 2014 adalah 7.950,7 MW, naik 14,1% dari kapasitas tahun 2013 yang sebesar 7.601,8 MW. Sedangkan kapasitas pembangkit sewa adalah sebesar 4.412,4 MW, meningkat sebesar 8,5% dari angka 4.296,4 MW di tahun sebelumnya.

Total kapasitas terpasang seluruh pembangkit di tahun 2014 sebesar 51.620,6 MW, meningkat sebesar 12,0% dari kapasitas sebesar 46.103,5 MW di tahun 2013, seperti tampak pada tabel
berikut.

kepemilikan pembangkit

Bauran kepemilikan pembangkit, , sumber: PLN

Keandalan Sistem

Tingkat keandalan pelayanan diukur dengan menggunakan indeks lama gangguan (System Average Interruption Duration Index/ SAIDI) yang dihitung lamanya pelanggan mengalami gangguan dalam satuan menit per pelanggan per tahun. Sedangkan indeks frekuensi gangguan (System Average Interruption Frequency/ SAIFI) menghitung banyaknya jumlah gangguan per pelanggan per tahun.
Pada tahun 2014, indeks SAIDI sebesar 5,81 jam/pelanggan/ tahun dan SAIFI sebesar 5,58 kali/pelanggan/tahun. Pencapaian SAIDI lebih buruk, sedangkan SAIFI lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, yang disebabkan oleh:

  1. Adanya penyempurnaan sistem pencatatan gangguan yang lebih detail dan tingkat akurasinya lebih tinggi dari pencatatan periode sebelumnya di regional Jawa Bali dan Sumatera sebagai bagian dari program Operational Performance Improvements (OPI). Kontribusi atas penyempurnaan pencatatan ini terhadap meningkatnya angka SAIDI SAIFI adalah dari perbaikan pencatatan di jaringan sistem distribusi.
  2. Adanya defisit daya akibat gangguan dan rehabilitasi pembangkit pada beberapa PLTU di Sumatera.
saifi

SAIFI, sumber PLN

SAIDI

SAIDI, sumber PLN

Leave a Reply