Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung Akan Dimulai

Setelah mengalami penundaan dua bulan karena masalah perizinan dan hak konsesi, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung akan dimulai segera. Hal itu senada dengan apa yang disampaikan Ignasius Jonan, bahwa pihaknya setuju untuk memberikan masa konsesi 50 tahun ke konsorsium Indonesia-China yang bernama Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC). Dengan pemberian konsesi ini, KCIC bisa memulai kontruksi dan mengurus ijin bisnis yang terkait. Pembangunan kereta cepat Jakarta Bandung senilai USD 5,1 miliar atau setara 67 triliun rupiah ini merupakan salah satu proyek mega-infrastruktur Indonesia yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.

Upacara peletakan batu pertama telah dilakukan pada akhir Januari 2016 (yang disaksikan langsung oleh Presiden Indonesia Joko Widodo). Namun pada kenyataannya, proses pembangunan kereta api cepat pertama di Indonesia harus ditunda karena ada masalah dalam urusan konsesi. Tanpa perjanjian konsesi, izin operasional infrastruktur kereta api dan perijinan konstruksi proyek tidak bisa dimulai.

Menteri Perhubungan Ignatius Jonan menyatakan, bahwa Indonesia setuju untuk memberikan konsesi kepada KCIC selama waktu 50 tahun. Masa konsesi ini akan dimulai dari dari 31 Mei 2019 (target pengoperasian), hingga 31 Mei 2069. Setelah masa konsesi ini, pemerintah Indonesia akan mengambil alih semua usaha dan pengoperasian kereta cepat Jakarta Bandung ini.

Biaya total untuk mega-proyek diperkirakan mencapai 71 triliun. Namun, biaya total berkurang menjadi 67 triliun karena panjang rute berkurang menjadi 142,3 kilometer (dari 152,3 km sebelumnya) karena titik keberangkatan Jakarta yang awalnya direncanakan di Gambir, dipindahkan ke Halim, Jakarta Timur.

Konsorsium yang bertugas untuk membangun kereta api Jakarta-Bandung adalah Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), terdiri dari Pilar Sinergi BUMN Indonesia (memiliki 60 persen saham di KCIC) dan China Railway International Co Ltd (yang memiliki 40 persen). China Railway International saat ini adalah operator kereta api terbesar di Cina. Sementara, Pilar Sinergi BUMN Indonesia konsorsium terdiri dari empat perusahaan milik negara Indonesia: Wijaya Karya, Kereta Api Indonesia, Jasa Marga, dan Perkebunan Nusantara VIII.

Sebagian besar proyek akan dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank. Pemerintah Indonesia berulang kali menekankan bahwa tidak ada dana negara akan digunakan untuk membiayai proyek tersebut. Titik impas untuk proyek senilai 67 triliun ini diharapkan dapat dicapai dalam waktu 40 tahun. Dan mulai dari tahun ke 50, Indonesia sepenuhnya mengambil keuntungan dari kereta cepat ini.

Pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung diharapkan dapat meningkatkan lapangan kerja, khususnya untuk masyarakat Karawang, Cikampek, Purwakarta, dan Bandung sendiri. Diperkirakan proyek ini dapat menyerap hingga 39.000 pekerja. Tentu sebuah prospek ekonomi yang cerah bagi Indonesia khususnya Jawa Barat. Diharapkan, pengoperasian kereta cepat ini dapat menumbuhkan sentral-sentral ekonomi baru, seperti di daerah Cikampek (pintu masuk Jawa Tengah), Walini (pusat pariwisata), dan Bandung Barat (pusat ekonomi Kabupaten Bandung).

Kereta Cepat Jakarta Bandung

Jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung

Leave a Reply